Sosial Media
0
News
    Home ARTIKEL

    Penjabaran Panca dasar Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT)

    12 min read


    Persaudaraan Setia Hati Terate Cabang Surabaya - Pusat Madiun


    1. Persaudaraan: 

    Diutamakan sebagai dasar utama, mengedepankan hubungan batin yang erat dan kekal abadi antar anggota tanpa membedakan latar belakang.

    Dalam ajaran Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT), persaudaraan bukan sekadar hubungan pertemanan, melainkan ikatan batin yang erat dan tak terpisahkan antara sesama anggota, yang memiliki makna mendalam dari berbagai aspek:
     
    Dari Segi Makna
     
    Merupakan hubungan kekeluargaan yang dilandasi nilai-nilai luhur, di mana anggota saling mendukung, melindungi, dan membantu seperti saudara kandung, tanpa memandang ras, agama, suku, atau latar belakang lainnya. Konsep ini sejalan dengan ukhuwah insaniah (persaudaraan sesama manusia) dalam ajaran Islam, sebagaimana ditegaskan dalam QS. Al-Hujurat: 10.
     
    Dari Segi Penerapan
     
    Anggota diajarkan untuk menjalankan anjuran seperti anjangsana (kunjungan kepada anggota yang sakit atau mengalami kesulitan), mengucapkan salam saat bertemu, dan menjalankan tradisi sambung, yang mencerminkan rasa kepedulian dan solidaritas. Selain itu, nilai persaudaraan juga diperluas kepada masyarakat luas melalui gotong royong dan sikap kemanusiaan.
     
    Dari Segi Spiritual dan Filosofis
     
    Persaudaraan di dalam Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) juga merupakan bagian dari perjalanan bersama menuju kesempurnaan diri dan kedekatan dengan Tuhan Yang Maha Esa. Melalui latihan fisik dan mental, anggota diharapkan dapat mencapai keseimbangan jasmani dan rohani, serta menjadi pribadi yang beriman, bertakwa, dan berbudi pekerti luhur, yang selanjutnya turut berkontribusi pada terciptanya kedamaian dan keharmonisan alam semesta (memayu hayuning bawana).

    Dalam ajaran Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT), menjaga persaudaraan dilakukan melalui beberapa cara berikut:
     
    Berdasarkan Ajaran dan Nilai Dasar
     
    1.Menjunjung Sumpah Anggota: Anggota wajib menaati 8 sumpah, salah satunya adalah berkomitmen membangun persaudaraan yang erat, saling mengasihi dan menghormati sesama anggota, serta tidak berkelahi antar sesama warga Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT).
    2.Menerapkan Nilai Persaudaraan: Mengedepankan saling menghormati, membantu, peduli, dan menginspirasi. Anggota diajarkan untuk berbagi pengetahuan, pengalaman, dan keterampilan, serta mendukung sesama dalam menghadapi tantangan.
    3.Menjaga Keseimbangan Spiritual dan Moral: Melalui meditasi hati sebelum dan sesudah latihan, anggota diperkuat ikatan dengan Tuhan Yang Maha Esa, yang menumbuhkan ketenangan batin dan kebijaksanaan moral—dasar penting untuk menjaga hubungan yang harmonis.
     
    Melalui Kegiatan dan Praktik
     
    4.Silaturahmi dan Gotong Royong: Setiap cabang rutin mengadakan ngaji bersama, santunan anak yatim, bakti sosial, dan kegiatan lainnya. Konsep "sedulur tunggal ket jer" menjadi dasar, di mana setiap pendekar dianggap saudara sejiwa.
    5.Latihan Bersama: Proses latihan fisik dan mental tidak hanya mengembangkan kemampuan bela diri, tetapi juga mempererat hubungan antar anggota melalui kerja sama dan dukungan tim.
    6.Menghormati Simbol dan Tradisi: Menjaga dan menghormati simbol seperti "pagar ayu" dan "poros ijo", serta menjalankan tradisi seperti anjangsana (kunjungan kepada anggota yang sakit atau kesulitan) dan sambung, yang mencerminkan rasa kepedulian.
     
    Dalam Kehidupan Sehari-hari
     
    7.Menjaga Kerendahan Hati: Tidak sombong dan tidak menyalahgunakan ilmu yang dipelajari, serta menghargai perbedaan latar belakang antar anggota.
    8.Memperluas Nilai Persaudaraan: Menerapkan sikap gotong royong dan kemanusiaan kepada masyarakat luas, sesuai dengan konsep memayu hayuning bawana (menjaga keharmonisan alam semesta).


    2. Olahraga:

    Melatih fisik untuk mencapai kesehatan jasmani dan rohani, berdasarkan prinsip "mens sana corpore sano" (jiwa sehat dalam tubuh sehat).

    Dalam ajaran Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT), olahraga bukan sekadar aktivitas fisik semata, melainkan proses mengolah tubuh melalui gerakan pencak silat yang memiliki makna multidimensi:
     
    Makna Dasar
     
    Olahraga diartikan sebagai usaha untuk mengembangkan dan menyempurnakan kondisi jasmani dengan menggerakkan tubuh sesuai teknik pencak silat yang ada dalam Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT), sejalan dengan prinsip mens sana in corpore sano (jiwa sehat dalam tubuh sehat).
     
    Manfaat dan Tujuan
     
    1.Aspek Fisik: Meningkatkan kebugaran, memperkuat otot, membantu metabolisme, serta membangun kekuatan, kecepatan, ketepatan, dan keseimbangan tubuh.
    2.Aspek Psikologis: Meningkatkan suasana hati, menumbuhkan rasa percaya diri, dan mengurangi stres.
    3.Aspek Pembentukan Karakter: Melatih disiplin, ketahanan, dan kemampuan mengendalikan diri melalui proses latihan yang teratur dan bertahap.
    4.Aspek Konektivitas: Proses latihan bersama mempererat ikatan persaudaraan antar anggota, sekaligus menjadi sarana untuk mengembangkan kerja sama dan dukungan tim.
     
    Hubungan dengan Ajaran Lain
     
    Olahraga dalam Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) juga menjadi dasar untuk mengembangkan kemampuan dalam bela diri dan kesenian, serta menjadi media untuk menumbuhkan kesadaran spiritual dan cinta tanah air, yang selaras dengan tujuan utama Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) membentuk manusia yang berbudi luhur.

    Dalam ajaran Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT), metode yang benar mencakup aspek pembelajaran teknis, pembentukan karakter, dan penerapan nilai-nilai dasar, dengan mengikuti prinsip yang terstruktur:
     
    Metode Pembelajaran Teknis
     
    a.Tahapan Bertahap: Pembelajaran dimulai dari dasar seperti senam dasar, gerakan pasang (1 hingga 20 dengan fungsi masing-masing, seperti pasang 3 untuk menghalau tendangan dan pasang 4 untuk melancarkan pukulan), jurus dasar, hingga teknik yang lebih kompleks seperti jurus kunci. Setiap tahap harus dikuasai dengan baik sebelum melanjutkan.
    b.Latihan Teratur: Melakukan latihan fisik seperti push-up, sit-up untuk membangun kekuatan, stamina, dan kelincahan. Selain itu, latihan gerakan secara berulang untuk mencapai ketepatan dan kehalusan gerakan.
    c.Dampingan Pelatih: Belajar harus didampingi oleh pelatih yang berpengalaman agar mendapatkan bimbingan yang benar, menghindari cedera, dan memahami materi dengan baik.
    d.Pemanasan dan Pendinginan: Sebelum dan sesudah latihan dilakukan pemanasan dan pendinginan untuk menjaga kesehatan tubuh dan mencegah cedera.
     
    Metode Pembentukan Karakter dan Spiritual
     
    a.Latihan Rohani: Meliputi meditasi hati, pembelajaran nilai-nilai luhur seperti persaudaraan, integritas, rasa hormat, dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Hal ini bertujuan untuk membentuk karakter yang kuat dan etika yang baik.
    b.Menjunjung Sumpah dan Prinsip: Mentaati 8 sumpah anggota PSHT serta prinsip dasar organisasi, seperti menjunjung tinggi persaudaraan dan tidak menyalahgunakan ilmu yang dipelajari.
    c.Mengikuti Kegiatan Organisasi: Mengikuti kegiatan seperti ngaji bersama, bakti sosial, dan silaturahmi untuk mempererat ikatan persaudaraan dan menerapkan nilai-nilai PSHT dalam kehidupan sehari-hari.
     
    Metode Evaluasi dan Pengembangan
     
    a.Tes Berkala: Melakukan evaluasi kemampuan secara berkala, meliputi senam, jurus, dan teknik tertentu untuk mengukur kemajuan dan kesiapan melanjutkan ke tahap berikutnya.
    b.Pengesahan: Setelah melalui tahapan pelatihan dengan baik, anggota akan mengikuti acara pengesahan yang menandai kemampuan mereka dan menjadi bagian dari komunitas pendekar Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT).


    3.Kesenian:

    Mengakui pencak silat sebagai seni warisan leluhur yang mengandung nilai-nilai kesederhanaan, kehalusan, dan kelembutan.

    Dalam ajaran Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT), kesenian merupakan bagian tak terpisahkan dari pencak silat yang mengedepankan keindahan gerakan dan hubungan dengan budaya serta nilai-nilai luhur, dengan makna sebagai berikut:
     
    Makna Dasar
     
    Kesenian dalam Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) diartikan sebagai ekspresi keindahan melalui gerakan pencak silat, yang merupakan warisan budaya asli Indonesia yang perlu dilestarikan. Bentuknya bisa berupa permainan tunggal, ganda, atau pagelaran massal, yang diwujudkan dalam paket latihan terstruktur.
     
    Sasaran dan Tujuan
     
    a.Memelihara Kaidah Pencak Silat: Menumbuhkan kelenturan, keluwesan, dan keindahan gerakan yang disesuaikan dengan keserasian irama, sehingga teknik pencak silat tetap terjaga dengan baik.
    b.Mengembangkan Keserasian dan Keselarasan: Melatih anggota untuk memiliki sikap dan perilaku yang seimbang serta harmonis dalam kehidupan sehari-hari, yang berpengaruh pada pembentukan karakter.
    c.Pelestarian Budaya: Sebagai sarana untuk melestarikan dan mengembangkan budaya lokal, bahkan bekerja sama dengan bentuk kesenian lain seperti wayang kulit, angklung, atau reog dalam berbagai kegiatan masyarakat.
     
    Aspek Pelaksanaan
     
    a.Irama Pengiring: Gerakan kesenian Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) dapat diiringi dengan berbagai alat musik seperti gamelan, gendang pencak, jidor, keroncong, atau musik lainnya, yang memperkuat keserasian antara gerakan dan suara.
    b.Tahapan dan Penilaian: Kegiatan kesenian memiliki tahapan penilaian yang jelas, mulai dari pendahuluan, inti permainan, hingga penutupan, serta dilakukan secara teratur dan periodik. Selain itu, pelatihan disesuaikan dengan usia anggota, seperti pengenalan irama untuk anak-anak dan penghayatan keselarasan untuk dewasa.

    Dalam ajaran Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT), penerapan makna kesenian tidak hanya terbatas pada latihan atau pagelaran, tetapi juga diwujudkan dalam berbagai aspek kehidupan sehari-hari:
     
    Dalam Hubungan Antar Manusia
     
    a.Keserasian dan Keselarasan: Nilai keindahan dan irama dalam kesenian Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) diaplikasikan sebagai sikap menghargai perbedaan, berkomunikasi dengan lembut dan jelas, serta bekerja sama secara harmonis dengan orang lain. Seperti gerakan yang selaras dengan irama musik, anggota diajarkan untuk menyesuaikan diri agar hubungan tetap lancar dan tidak menimbulkan konflik.
    b.Etika dan Sopan Santun: Gerakan kesenian yang penuh kehalusan mencerminkan pada perilaku sehari-hari, seperti menghormati orang tua, sesama anggota, dan masyarakat luas, serta bertindak dengan penuh rasa hormat dan kesopanan.
     
    Dalam Pengembangan Diri
     
    a.Keseimbangan Jasmani dan Rohani: Prinsip mengolah gerakan dengan indah dan terkontrol membantu anggota menjaga kestabilan emosional, mengendalikan diri saat menghadapi tekanan, serta menjaga kesehatan tubuh melalui gerakan yang teratur dan terarah.
    b.Kreativitas dan Inovasi: Nilai ekspresi dalam kesenian mendorong anggota untuk berpikir kreatif dalam menyelesaikan masalah sehari-hari, serta mengembangkan ide-ide yang bermanfaat bagi diri sendiri dan lingkungan.
     
    Dalam Hubungan dengan Budaya dan Masyarakat
     
    a.Pelestarian Nilai Budaya: Anggota didorong untuk menghargai dan melestarikan budaya lokal, seperti menghadiri acara tradisional, belajar seni budaya daerah, atau bahkan mengintegrasikan unsur kesenian Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) dengan kesenian lain dalam kegiatan kemasyarakatan.
    Kontribusi pada Keharmonisan Masyarakat: Melalui pagelaran kesenian di acara publik seperti hari besar nasional, hajatan masyarakat, atau kegiatan sosial, anggota PSHT menyebarkan pesan kedamaian dan kebersamaan, serta mempererat hubungan dengan masyarakat luas sesuai dengan konsep memayu hayuning bawana.

    4.Bela Diri:

    Sebagai sarana untuk mempertahankan diri dari ancaman fisik, bukan untuk mencari konflik, serta membentuk kepribadian yang percaya diri dan berjiwa ksatria.
    Dalam ajaran Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT), bela diri bukan sekadar teknik mempertahankan diri secara fisik, melainkan sarana untuk membela kehormatan diri, orang lain, dan nilai-nilai luhur, yang dijiwai oleh pemahaman akan diri sendiri dan Sang Pencipta. Berikut adalah poin pentingnya:
     
    Makna Dasar
     
    Bela diri dalam Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) berfungsi sebagai alat untuk mempertahankan diri dari ancaman fisik atau penghinaan, namun selalu berdasarkan prinsip etika dan kemanusiaan. Selain itu, ia juga berperan dalam mempertahankan dan mengembangkan kepribadian bangsa Indonesia, karena pencak silat Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) berakar pada budaya lokal yang asli.
     
    Prinsip Penggunaan
     
    a.Hanya untuk Pertahanan: Tidak digunakan untuk menyerang atau mencelakai secara sengaja, melainkan hanya dalam situasi darurat untuk melindungi diri atau orang lain yang tidak mampu membela diri.
    b.Berbasis Kemanusiaan: Meskipun memiliki jurus yang efektif bahkan dapat melumpuhkan lawan, penggunaannya diatur oleh etika yang ketat, dengan tujuan utama untuk mengakhiri konflik tanpa menyebabkan kerusakan berlebih.
    c.Terintegrasi dengan Nilai Spiritual: Ilmu bela diri dijiwai oleh kesadaran akan Tuhan Yang Maha Esa, sehingga anggota diajarkan untuk memiliki kontrol emosi dan fokus mental yang baik, serta bertindak dengan kebijaksanaan.
     
    Tujuan yang Lebih Luas
     
    Selain melindungi diri, bela diri dalam PSHT juga bertujuan untuk membentuk karakter yang pemberani, memiliki rasa harga diri yang baik, serta mampu menghadapi tantangan dengan penuh ketenangan dan keadilan, sesuai dengan konsep memayu hayuning bawana (menjaga keharmonisan alam semesta).

    Dalam ajaran Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT), penerapan bela diri dalam kehidupan bermasyarakat tidak hanya fokus pada aspek fisik, melainkan lebih pada nilai-nilai yang terkandung di dalamnya:
     
    Sebagai Bentuk Perlindungan dan Tanggung Jawab
     
    a.Melindungi yang Lemah: Jika menyaksikan tindakan tidak adil atau orang lain dalam bahaya, anggota diajarkan untuk bertindak dengan hati-hati—terlebih dahulu mencoba menyelesaikan secara damai melalui komunikasi. Jika diperlukan, teknik bela diri dapat digunakan dengan proporsional hanya untuk menghentikan ancaman, bukan untuk menyakiti.
    b.Menjaga Keamanan Lingkungan: Berperan aktif dalam memelihara ketertiban dan keamanan lingkungan sekitar, seperti berpartisipasi dalam kegiatan keamanan masyarakat atau memberikan bantuan saat terjadi keadaan darurat.
     
    Sebagai Pembentuk Karakter dan Sikap Bermasyarakat
     
    a.Menunjukkan Keberanian yang Bijaksana: Tidak takut untuk mengingatkan atau menentang hal yang salah, namun dengan cara yang sopan, penuh rasa hormat, dan berdasarkan fakta. Sikap ini berasal dari kepercayaan diri yang dibangun melalui latihan bela diri.
    b.Menjaga Harga Diri dan Kehormatan: Tidak mudah terpancing emosi atau terlibat konflik yang tidak perlu. Jika menghadapi penghinaan atau provokasi, anggota diajarkan untuk tetap tenang, menjelaskan diri dengan jelas, dan hanya menggunakan kekuatan jika tidak ada pilihan lain.
    c.Menjadi Contoh yang Baik: Mengedepankan perilaku yang adil, jujur, dan penuh rasa tanggung jawab, sehingga dapat menjadi panutan bagi masyarakat sekitar. Nilai-nilai bela diri yang terkait dengan disiplin dan ketahanan juga diterapkan dalam pekerjaan dan aktivitas kemasyarakatan.
     
    Sebagai Sarana Mempererat Hubungan Masyarakat
     
    a.Membagikan Pengetahuan: Mengajar teknik dasar bela diri dan nilai-nilai yang menyertainya kepada masyarakat, terutama anak-anak dan pemuda, sebagai bentuk bekal untuk melindungi diri serta membentuk karakter yang baik.
    b.Berpartisipasi dalam Kegiatan Kemasyarakatan: Melalui pagelaran atau demonstrasi bela diri dalam acara masyarakat, anggota Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) menyebarkan pesan tentang pentingnya kedisiplinan, kebersamaan, dan cinta tanah air.

    5.Kerohanian:

    Mengembangkan kesadaran batin, bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, serta memahami nilai-nilai kehidupan yang luhur.

    Dalam ajaran Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT), kerohanian atau ke-SH-an, yang merupakan salah satu Panca Dasar dan tujuan akhir dari organisasi ini. 
     
    Berikut adalah arti dan maknanya:
     
    Ke-SH-an adalah sumber azasi Tuhan Yang Maha Esa untuk mencapai manusia yang berbudi luhur guna kesempurnaan hidup, berpijak pada keaslian dan menerima segala sesuatu atas dasar ridho Tuhan (disebut nrimo ing pandum dalam bahasa Jawa).
     
    Tujuan Utama
     
    Mendidik anggota yang berjiwa setia hati agar memperoleh kebahagiaan serta kesejahteraan lahir dan batin di dunia maupun akhirat, serta mampu menjalankan tugas besar Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) yaitu memayu hayuning bawana (menjaga keharmonisan alam semesta).
     
    Aspek Penting
     
    a.Pengenalan Diri Sendiri: Anggota diajarkan untuk mengenal diri dengan baik, menyadari bahwa manusia tidak dapat hidup sendiri tanpa Sang Pencipta, sehingga selalu menjaga hubungan dengan Tuhan.
    b.Keseimbangan Jasmani dan Rohani: Pencak silat hanya sebagai sarana, yang utama adalah membentuk pribadi yang seimbang, tidak hanya mengandalkan kekuatan fisik tanpa nilai moral.
    c.Nilai-Nilai Luhur: Menjunjung tinggi ajaran yang sesuai dengan hukum alam dan kodrat manusia, serta menolak hal yang bertentangan dengannya.
    d.Simbolisme dalam Lambang: Lambang Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) juga mengandung makna kerohanian, seperti hati putih yang melambangkan kesucian pikiran, hati bersinar yang mewakili pancaran kasih sayang, dan bunga terate yang melambangkan ketahanan semangat serta menjadi panutan baik di masyarakat.

    Dalam ajaran Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT), pengenalan diri sendiri dilakukan melalui proses yang terintegrasi dengan latihan fisik, pembelajaran nilai-nilai, dan pengembangan spiritual, dengan beberapa cara utama sebagai berikut:
     
    Melalui Latihan dan Pengamatan Diri
     
    a.Latihan Pencak Silat: Saat berlatih gerakan, jurus, dan teknik bela diri, anggota diajarkan untuk memperhatikan kondisi fisik dan kemampuan diri sendiri—seperti kekuatan, kelincahan, dan ketahanan tubuh. Hal ini membantu mereka mengenali batasan dan potensi fisik, serta belajar mengendalikan diri agar tidak menyalahgunakan kekuatan.
    b.Refleksi Setelah Latihan: Setelah setiap sesi latihan, anggota didorong untuk merenungkan proses dan hasil latihan, menyadari kesalahan yang dilakukan, serta mencari cara untuk memperbaiki diri. Ini melatih kesadaran akan tindakan dan konsekuensinya.
     
    Melalui Pembelajaran Nilai dan Filosofi
     
    a.Pemahaman Nilai Dasar PSHT: Dengan mempelajari Panca Dasar, sumpah anggota, dan prinsip-prinsip organisasi, anggota mengenali nilai-nilai yang harus dijunjung tinggi (seperti persaudaraan, kejujuran, dan bertaqwa) serta bagaimana nilai-nilai tersebut menjadi bagian dari identitas diri mereka sebagai anggota Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT).
    b.Pembelajaran Filosofi Lokal: PSHT mengintegrasikan filosofi Jawa seperti nrimo ing pandum (menerima dengan lapang dada) dan memayu hayuning bawana (menjaga keharmonisan alam semesta), yang membantu anggota memahami hubungan diri dengan orang lain dan alam semesta.
     
    Melalui Pengembangan Spiritual dan Introspeksi
     
    a.Meditasi dan Latihan Batin: Aktivitas seperti meditasi hati sebelum dan sesudah latihan membantu anggota memasuki kondisi ketenangan batin, sehingga dapat melakukan introspeksi untuk mengenali pikiran, perasaan, dan niat terdalam diri mereka.
    b.Pengenalan Hubungan dengan Tuhan: Anggota diajarkan bahwa manusia tidak dapat hidup sendiri tanpa Sang Pencipta, sehingga mereka diajak untuk menyadari kedudukan diri sebagai makhluk yang harus selalu bertakwa dan menghargai kodrat alam.
     
    Melalui Interaksi dalam Komunitas
     
    a.Silaturahmi dan Kerjasama: Dalam kegiatan persaudaraan seperti ngaji bersama, bakti sosial, atau latihan kelompok, anggota belajar mengenali diri melalui interaksi dengan sesama. Mereka dapat melihat bagaimana perilaku dan sikap mereka memengaruhi orang lain, serta menerima masukan konstruktif untuk perbaikan diri.
    b.Menghadapi Tantangan Bersama: Saat menghadapi tantangan dalam latihan atau kegiatan organisasi, anggota belajar mengenali kekuatan karakter diri mereka—seperti ketekunan, keberanian, atau kemampuan bekerja sama.

    Penutup

    Implementasi ajaran Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) dalam kehidupan bermasyarakat dilakukan dengan mengintegrasikan seluruh Panca Dasar dan nilai-nilai intinya ke dalam berbagai aspek interaksi sosial, sebagai berikut:
     
    Berdasarkan Nilai Persaudaraan
     
    a.Saling Bantu dan Gotong Royong: Menjalankan sikap sedulur tunggal ket jer dengan aktif membantu tetangga atau masyarakat yang mengalami kesulitan, seperti dalam acara hajatan, pembersihan lingkungan, atau memberikan bantuan pada korban bencana.
    b.Menghargai Perbedaan: Tidak membedakan latar belakang ras, agama, atau suku dalam berinteraksi, serta menghormati pendapat dan pilihan orang lain untuk menjaga keharmonisan.
    c.Melakukan Silaturahmi: Rutin mengunjungi teman, keluarga, atau anggota Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) yang sakit atau mengalami kesusahan, serta menghadiri kegiatan kemasyarakatan untuk mempererat hubungan sosial.
     
    Berdasarkan Nilai Olahraga dan Bela Diri
     
    a.Menjaga Kesehatan dan Disiplin: Melakukan aktivitas fisik secara teratur dan menjalani pola hidup sehat, serta menerapkan disiplin yang dipelajari dari latihan ke dalam pekerjaan dan tanggung jawab masyarakat.
    b.Menjadi Pelindung yang Bijaksana: Jika menyaksikan ketidakadilan atau bahaya, mencoba menyelesaikan secara damai terlebih dahulu. Jika diperlukan, menggunakan kemampuan bela diri hanya untuk menghentikan ancaman tanpa menyakiti berlebih.
    c.Menjaga Harga Diri dan Etika: Tidak mudah terpancing konflik, bertutur kata dengan sopan, dan menghindari perilaku yang dapat merusak nama baik diri sendiri maupun masyarakat.
     
    Berdasarkan Nilai Kesenian
     
    a.Melestarikan Budaya Lokal: Menghargai dan mengikuti acara budaya tradisional, serta memperkenalkan unsur kesenian PSHT (seperti gerakan pencak silat yang indah) dalam kegiatan masyarakat untuk mempererat rasa cinta tanah air.
    c.Berkomunikasi dengan Harmonis: Menerapkan keserasian dan kehalusan gerakan kesenian ke dalam cara berinteraksi—berbicara dengan jelas, mendengarkan dengan baik, dan bekerja sama secara lancar.
     
    Berdasarkan Nilai Kerohanian
     
    a.Bertaqwa dan Berbudi Luhur: Menjalankan ibadah sesuai agama masing-masing, serta menerapkan nilai nrimo ing pandum dengan menerima segala hal dengan lapang dada dan tidak mengeluh tanpa sebab.
    b.Menjaga Keharmonisan Alam Semesta: Peduli pada lingkungan sekitar dengan tidak merusak alam, mengelola sampah dengan benar, dan berpartisipasi dalam kegiatan penghijauan untuk mewujudkan memayu hayuning bawana.
    c.Menjadi Contoh yang Baik: Menjalankan prinsip kejujuran, tanggung jawab, dan integritas dalam setiap aktivitas, sehingga dapat menjadi panutan bagi masyarakat luas.


    Salam Persaudaraan

    Komentar
    Additional JS